Friday, November 18, 2011

tata letak daun


PRAKTIKUM IV

Topik               : Tata letak daun, rumus daun, bagian dan diagram daun.
Tujuan             : Mengenal berbagai tata letak daun pada batang, menentukan rumus daun serta menggambar bagan dan diagram daun.
 

I. ALAT DAN BAHAN:
1)      Tanaman papaya (Carica papaya L.)
2)      Bayam (Amaranthus spinosus L.)
3)      Tanaman pudak

II. CARA KERJA

1.      Mengamati duduk daun pada ranting, cabang atau batang (tunggal tersebar, tunggal berseling, berhadapan, berkarang, roset batang, roset akar, monospirotik, dan trispirotik.

2.      Rumus daun: ½, 2/5, 3/8, dst.
3.      Menggabar bagan dan diagram daun.

III. TEORI DASAR

            Daun-daun pada suatu tumbuhan biasanya terdapat pada batang atau cabangnya, ada kalanya daun-daun berjejal-jejal pada suatu bagian batang, yaitu pada pangkal atau bagian ujungnya. Umunya daun-daun pada batang terpisah pada batang terpisah-pisah dengan suatu jarak yang nyata. Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun permulaan garis spiral tadi mengelilingi batang a kali, dan jumlah daun yang dilewati selama itu adalah b, juga dinamakan rumus daun atau disvergensi.
            Pecahan a/b selanjutnya dapat menunjukan sudut antara dua daun berturut-turut, jika diproyeksikan pada bidang datar.jarak antara kedua daun berturut-turut pun tetap dan besarnya adalah a/b x 3600, yang disebut sudut divergensi, ternyata didapati pecahan a/b dapat terdiri dari pecahan ½, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21, dan seterusnya. Untuk menjelskan tata letak ddaun, dapat dilakukan dengan membuat bagan tata letak daun dan diagram tat letak daunnya.
a.       Bagan tata letak daun.
Untuk membuat bagan tata letak daun, batang tumbuhan digambar sebagai silender dan padnaya digambar membujur ortostik-ortostiknya. Demikian pula pada buku-buku batangnya.
b.      Diagram tata letak daun.
Untuk membuat diagram tata letak daun, batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut memanjang, dengan buku-bukunya sebagai lingkaran-lingkaran sempurna. Jika diproyeksikan pada bidang datar, maka buku-buku tersebut akan menjadi lingkaran-lingkaran yang konsentris dan puncak kerucut akan menjadi titik pusat lingkaran-lingkaran tadi.
c.       Spirostik dan parastik.
Pada suatu tumbuhan, garis-garis ortostik yang biasanya tampak lurus ke atas, dapat mengalami perubahan-perubahan arahnya karena pengaruh macam-macam faktor. Perubahan sangat karakteristik adalah ortostik menjadi garis spiral yang tampak melingkar batang pula. Dalam keadaan yang demikian, spiral genetik sukar ditentukan dan tampaknya letak daun pada batang mengikuti ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi, yang diberi nama lain spirostik.










IV. HASIL PENGAMATAN

1. Gambar Tanaman papaya (Carica papaya L.) menurut hasil pengamatan.
Keterangan:
1.      Tangkai daun
2.      Batang
3.      Daun








Gambar diagram daun dari papaya.
Keterangan:
1.      Daun














Gambar bagan daun dari papaya.
Keterangan:
1.      Daun









2. Gambar Bayam (Amaranthus spinosus L.) menurut hasil pengamatan.
Keterangan:
1.      Batang
2.      Daun
3.      Bunga






Gambar diagram daun dari bayam.
Keterangan:
1. Daun





Gambar bagan daun dari bayam.
Keterangan:
1.      Daun









3. Gambar Tanaman pudak menurut hasil pengamatan.
Keterangan:
1.      Batang
2.      Daun







V. ANALISIS DATA

1. Tanaman papaya (Carica papaya L.)
klasifikasi berdasarkan Cronquist:
Kingdom                     : Plantae
Divisio                         : Magnoliophyta
Classis                         : Magnoliopsida
Sub classis                   : Dilleniidae
Ordo                            : Violales
Familia                        : Caricaceae
Genus                          : Carica
Species                        : Carica papaya L.
Papaya memiliki tata letak daun yang tersebar dan mempunyai rumus daun daun 3/8, maksud angka 3 tersebut adalah untuk mempertemukan daun yang satu dengan yang lain yang terletak dalam satu garis yang sama harus mengelilingi batang sebanyak 3 putaran, dan maksud dari angka delapan tersebut adalah pada saat melakukan tiga kali putaran jumlah daun daun yang dilaluinya adalah berjumlah delapan dan perhitungannya dimulai dari angka nol. Karena rumus daunnya didapatkan maka dapat dihitung sudut disvergensi 3/8 x 3600 = 1350.

2. Tumbuhan Bayam (Amaranthus spinosus L.)
Klasifikasi berdasarkan Cronquist:
Kingdom                     : Plantae
Divisio                         : Magnoliophyta
Classis                         : Magnoliopsida
Subclassis                    : Caryophyllidae
Ordo                            : Caryophyllales
Familia                        : Amaranthaceae
Genus                          : Amaranthus
Spesies                        : Amaranthus spinosus L
Tumbuhan bayam memiliki daun yang tersusun secara berselang-seling dengan rumus daun 2/5, sama seperti di atas angka 2 menunjukkan banyaknya putaran dan angka 5 banyaknya daun yang dilalui yang dihitung mulai dari nol. Sehingga dapat dihitung sudut dirvergensinya 2/5 x 3600 = 1440.






VI. KESIMPULAN

1.      Tata letak daun terdiri dari; berhadapan, tersebar, berseling dan berkarang.
2.      Pada papaya rumus daunnya 3/8 dengan sudut disvergensinya 1350.
3.      Pada bayam rumus daunnya 2/5 dengan sudut disvergensinya 1440.
4.      Pada pudak rumus daunnya tidak dapat dihitung karena merupakan tipe spirostik.


VII. DAFTAR PUSTAKA


Dasuki, U. A. 1994. Sistematik Tumbuhan Tinggi. Bandung: ITB.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University.
















0 komentar:

Post a Comment