Breaking News

Ekologi Acanthaster planci

Habitat
Dari hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa A. planci lebih menyukai untuk hidup pada kondisi habitat tertentu dalam ekosistem terumbu karang.  Acanthaster planci cenderung untuk hidup pada habitat yang cukup terlindung yaitu daerah dimana A. planci tidak dapat dengan mudah dihempaskan oleh ombak yang kuat atau terlempar keluar dari karang akibat arus yang kuat.  Alasan inilah yang menyebabkan A. planci cenderung untuk menghindari daerah perairan terbuka atau perairan yang dangkal, sehingga terumbu karang pada daerah tersebut seringkali luput dari pemangsaannya  (Moran, 1987).
 Acanthaster planci pada umumnya menyukai daerah terumbu karang dengan persentase tutupan karang yang tinggi, sedangkan anakan A. planci lebih menyukai tempat yang terlindung dengan cara bersembunyi di bawah bongkah-bongkah karang atau pecahan karang (Moran,1990). Acanthaster planci tersebar pada daerah terumbu karang di sepanjang kawasan Indo-Pasifik (Birkeland dan  Lucas, 1990).

Perilaku Makan
Acanthaster planci dewasa aktif mencari makan pada siang dan malam hari, sedangkan anakan A. planci hanya makan pada waktu malam hari untuk menghindari predator (Suharsono, 1998).
Cara makan A. planci cukup unik, yaitu dengan mengeluarkan isi perutnya melalui mulut dan kemudian ususnya akan menutupi permukaan koloni karang sehingga pencernaan terjadi di luar tubuh. Pada proses mencernaan makanan, A. planci mengeluarkan suatu enzim dari pyloric caeca yang berfungsi sebagai pemecah lemak.  Proses ini membutuhkan waktu antara 4 6 jam (Suharsono, 1998).  Satu individu dewasa A. planci dapat memangsa rata-rata 5 - 6 m2 koloni karang/tahun (Moran, 1990). Berdasarkan hasil penelitian di laboratorium dan di lapangan menunjukkan bahwa A. planci cenderung tertarik pada koloni karang yang sebelumnya telah dimangsa oleh A. planci yang lain (Birkeland dan Lucas, 1990).  Moran (1990) mengatakan bahwa A. planci dapat bertahan tanpa makanan selama 6 - 9 bulan.
Secara umum, makanan utama A. planci adalah karang keras namun     A. planci juga dapat memangsa beberapa jenis organisme bentik lainnya, tergantung dari faktor ketersediaan makanan (Moran, 1986 dalam Birkeland, 1998).  Suharsono (1998) menambahkan bahwa makanan A. planci berbeda-beda, tergantung tingkat kedewasaan dan ukuran tubuh dari biota tersebut.  Pada fase larva makanan A. planci adalah fitoplankton (diatom dan dinoflagellata), sedangkan pada fase dewasa makanan utamanya adalah karang keras (Moran, 1990).
Aktifitas makan individu dewasa A. planci menunjukkan adanya preferensi makanan terhadap jenis karang keras tertentu. Adanya preferensi makanan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain yaitu kondisi A. planci, morfologi karang, dan ketersediaan makanan (Moran, 1990).  De’ath dan Moran (1998) mengatakan bahwa bentuk pertumbuhan karang juga turut mempengaruhi preferensi makanan dari A. planci, bentuk pertumbuhan yang paling disukai pada semua genera karang adalah tabular dan yang kurang disukai adalah bentuk pertumbuhan masif. Lebih lanjut De’ath dan Moran (1998) mengemukakan bahwa dari hasil penelitian yang mereka lakukan di Great Barrier Reef, Australia, genera karang keras yang paling disukai untuk dimangsa oleh A. planci adalah dari genera Acropora dan yang paling tidak disukai adalah genera Porites.
 Predator Acanthaster planci
            Seluruh permukaan tubuh A. planci dilindungi duri - duri beracun yang jika diamati sepintas tidak mungkin ada yang memangsanya.  Akan tetapi, sejak dalam bentuk telur hingga dewasa A. planci tidak pernah luput dari incaran predator (Suharsono, 1998). Acanthaster planci dewasa justru duri-duri beracunnya akan berkurang.  Oleh karena itu, A. planci tergolong organisme yang mudah dimangsa oleh organisme yang dapat melokalisir mereka dan terlindung terhadap pertahanan mereka.  Kepiting karang dan beberapa jenis ikan diketahui memangsa A. planci  juvenil.  Ada beberapa jenis ikan seperti ikan kerapu, ikan trigger dan ikan napoleon yang pernah diamati memakan A. planci  dewasa. Ikan-ikan ini menghindar dari duri tubuh yang beracun dengan cara membalikan A. planci sehingga bagian bawah menghadap atas dan mudah dimangsa. Triton raksasa (Charonia tritonis) dan udang warna (Hymeno cerapicta) juga merupakan predator A. planci (Fraser et al., 2003).

No comments