Blogger templates

Kompetisi antara Kepentingan Manusia dan Satwa

Pulau Sumatera merupakan habitat penting bagi mamalia besar Indonesia karena di sanalah bermukim lima mamalia besar Indonesia: gajah Elephas maximus sumatrensis, badak Dicerorhinus sumatrensis, harimau Panthera tigris sumatrae, orang utan Pongo abelii dan tapir Tapirus indicus.  Hutan hujan dataran rendah sebagai habitat mamalia besar ini semakin bersaing ketat dengan perluasan wilayah untuk memenuhi pembangunan, khususnya untuk kebun sawit dan hutan tanaman.  Badan Pusat Statistik memprediksikan bahwa penduduk di pulau ini akan meningkat hingga 22.7% pada tahun 2025, sementara laju deforestasi dari tahun 1985 hingga  1997 di Pulau Sumatera – menurut perhitungan World Bank – mencapai sekitar 560.000 hektar  per tahun atau 28.7% (rata-rata laju deforestasi nasional ‘hanya’ 16.7%).   
 
            Tantangan para pakar ekologi satwa masa depan adalah bagaimana mengupayakan agar satwa Sumatera, khususnya mamalia besar, dapat dipertahankan pada kantong-kantong habitat yang semakin menyempit dan terfragmentasi.  Teori metapopulasi, source-sink,  biogeografi pulau, MVP (minimum viable population), pusaran kepunahan (extinction vortex) serta teori genetika untuk menangani populasi kecil akan sangat relevan diaplikasikan [dan dibuktikan] di Sumatera.           
            Selain itu, tantangan besar lainnya di Sumatra adalah menengahi konflik satwa dan manusia.  Kegiatan pembangunan manusia sesungguhnya secara fisik telah mendekatkan manusia dengan satwa liar. Pada saat satwa mangsa alami atau vegetasi pakan alami berkurang, maka satwa terpaksa mengusik kehidupan manusia yang merambah habitat mereka: memangsa ternak (bahkan seringkali manusia juga) dan memakan habis tanaman kebun. 
            Solusi yang optimal atas berbagai konflik satwa-manusia hingga kini boleh dikata belum tersedia.   Bilamana terjadi konflik, tentu manusia dinomersatukan.  Solusi yang paling umum adalah: satwa ditembak, diracun, ditangkap, atau dipindahkan ke lokasi lain (untuk dilepasliarkan atau dipelihara di kebun binatang).  Satwa yang tertangkap atau bagian-bagian tubuhnya tidak jarang diperjualbelikan di pasar gelap karena diam-diam banyak pihak yang meminati, untuk perhiasan (gading gajah), ornamen (kulit/opset harimau), satwa peliharaan (misal anakan orang utan), jimat (kumis dan taring harimau) atau dipercaya berkhasiat obat (cula badak, tulang harimau, tangkur buaya).      
            Populasi mamalia besar Sumatera di habitat alaminya kini semakin mengkhawatirkan (gajah tinggal 2.400-2.800 ekor, badak 200-300 ekor, harimau 300-400 ekor, orang utan 6.000-7.000, tapir 4.000-5.000 ekor), sementara solusi terhadap konflik belumlah memuaskan.  Semakin lama jumlah satwa yang diungsikan ke fasilitas eks-situ (di luar habitat alaminya) - termasuk ke Pusat Latihan Gajah, Pusat Penyelamatan Satwa, pusat rehabilitasi orang utan, kebun binatang dan taman safari - semakin banyak, sehingga menimbulkan permasalahan baru: dana berkelanjutan untuk memelihara satwa-satwa itu.   Sebagai gambaran, di pusat rehabilitasi orang utan di Kalimantan (ada empat pusat rehabilitasi) kini diperlihara lebih dari 1.200 orang utan dan memerlukan dana ratusan juta rupiah setahun. 
Kompetisi antara Kepentingan Manusia dan Satwa Kompetisi antara Kepentingan Manusia dan Satwa Reviewed by andre on 9:31 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.