Tuesday, December 18, 2012

Sistematika, Anatomi, Fisiologi, dan Morfologi pada Ikan Nila


Ikan Nila (Deskripsi)
Ikan Nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar.Ikan ini diintroduksi dari Afrika, tepatnya Afrika bagian timur pada tahun 1969.Kini, ikan nila menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar Indonesia. Nama ilmiah dari ikan nila adalah Oreochromis niloticus dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama “Nile Tilapia” (Linnaeus, 1758).
Ikan nila adalah ikan air tawar yang memiliki bentuk ekor rounded, sirip dorsal (punggung), bentuk sirip cetenoyd, bentuk mulutnya sub terminal, dan giginya berupa fili form (Lestari, 2009).
Menurut Suyanto (1994), ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung di laut.
Ikan nila merah Florida mempunyai tingkat kelangsungan hidup lebih baik pada salinitas 18 ppt dibandingkan dengan salinitas lebih rendah dan yang lebih tinggi, walaupun dapat dipelihara sampai salinitas 36 ppt (watanabe et al, 1990 dalam Arifin, 1995).

2.2  Klasifikasi
     Menurut Dr. Trevas (1982), klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut :
Kingdom               : Animalia
Filum                    : Chordata
Sub filum              : Vertebrata
Kelas                    : Osteichtes
Sub kelas             : Acanthioptherigii
Ordo                     : Percormorphii
Sub ordo              : Percoidae
Famili                   : Cichlidae
Genus                  : Oreochromis
Spesies                : Oreochromis niloticus



Nama latin                        : Oreochromisniloticus linn
Nama Indonesia               : Nila (ditetapkan oleh Dirjen Perikanan tahun
1972).
Daerah penyebaran         : Afrika, Amerika, Eropa, Asia (termasuk
Indonesia).

Sejak diintroduksi di Indonesia tahun 1969, ikan nila telah berganti nama sebanyak tiga kali. Semula ia diberi nama Tilapia nilotica, kemudian berganti nama menjadi Sarotharoden niloticus, dan kini ditetapkan dengan nama Oreochromis niloticus. Para pakar ikan (Ichtyolog) mengadakan penelitian dipelopori oleh seorang doktor bernama Trewavas, tahun 1980. Menurut Dr. Trewavas (1982), perubahan klasifikasi pada genus tilapia dibagi menjadi tiga genus, yaitu sebagai berikut :
1.   Genus tilapia
2.   Genus Sarotherodon
3.   Genus Oreochromis

2.3 Morfologi Ikan Nila
Ikan nila memiliki ciri-ciri fisik badan dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2:1.Sirip punggung dengan 16-17 duri tajam dan 11-15 duri lunak dan dubur 3 duri serta 8-11 jari-jari.Tubuh ada yang berwarna kemerahan, kehitaman atau keabuan dengan beberapa pita hitam belang yang makin mengabur pada saat ikan dewasa. Ekor berbentuk rounded dengan garis-garis tegak, 7-12 sirip punggung dengan warna kemerah-merahan atau kekuning-kuningan saat musim berbiak (Saputra, 2007).
Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur.Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad.Pada rahang terdapat bercak kehitaman.Sisik ikan nila juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, begitu pula dengan bagian analnya. Dengan posisi sirip anal di bagian belakang sirip dada (abdominal) (Suyanto,1994 dalam wibaw 2003).




2.4  Anatomi Ikan Nila
Menurut Ainun Nimah (2009), ada sepuluh sistem anatomi pada tubuh ikan nila, yaitu:
1.   Sistem penutup (kulit), antara lain: sisik, kelenjar racun, kelenjar lendir, dan sumber-sumber pewarnaan.
2.   Sistem otot (urat daging) : penggerak tubuh, sirip, insang, organ listrik.
3.   Sistem rangka (tulang) : tempat melekatnya otot, pelindung organ-organ dalam dan penggerak tubuh, tulang tengkorak, tulang rusuk visceral (tulang penyokong insang), tulang punggung, appendicular (tulang penyokong sirip), tulang-tulang penutup insang (opperculum, sub opperculum, pre opperculum, dan interculum).
4.   Sistem pernafasan (respirasi) : insang yang terdiri dari tulang lengkung insang, tulang tipis insang dan insang.
5.   Sistem peredaran darah (sirkulasi) : organnya adalah jantung, dan sel-sel darah yang berfungsi untuk mengedarkan oksigen, nutrisi, dll.
6.   Sistem pencernaan : rongga mulut, esofagus, lambung, usus pilarus, dan pilotik saeka dan organ-organ tambahan (kelenjar empedu dan kelenjar pankreas).
7.   Sistem saraf : organnya otot dan saraf tepi.
8.   Sistem hormon : hormon pertumbuhan, hormon reproduksi, hormon ekskresi dan osmoregulasi.
9.   Sistem ekskresi dan osmoregulasi : organ utamanya ginjal.
10.  Sistem reproduksi : organ-organ reproduksi meliputi organ kelamin (gonad).
Menurut Balarin and hotton (1979), pada ikan betina, lubang kencing dan lubang pengeluaran telurnya terpisah. Lubang kencing terletak di ujung papilla di depan lubang kencing yang sangat khas yaitu seperti bulan yang melintang.

2.5  Sistem Pencernaan
Pencernaan pada ikan berlangsung secara fisik dan kimiawi. Pencernaan secara fisik dimulai dari bagian rongga mulut, yaitu dengan berperannya gigi dalam proses pemotongan dan penggerusan makanan. Sedangkan pencernaan mekanik di segmen lambung dan usus yaitu melalui gerak-gerak (kontraksi) otot pada segmen tersebut.Pencernaan mekanik di segmen lambung dan usus terjadi secara lebih efektif oleh karena adanya peran cairan “digestif” (Ahmad, 2009).
Pencernaan adalah proses penyederhanaan melalui cara fisik dan kimia sehingga menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap dalam usus, kemudian diedarkan ke seluruh organ tubuh melalui sistem peredaran darah. Organ-organ saluran pencernaan terdiri dari arah depan/anterior ke arah belakang /posterior. Jika diurutkan menjadi hati, pilorus, mulut/rongga mulut, usus, esofagus, lambung, empedu, pankreas.Organ-organ tambahan terdiri dari kelenjar hati, kelenjar empedu, dan pankreas.Organ-organ pelengkap diantaranya sungut, gigi, tapis, insang (Ka.462, 2008).

2.6  Sistem Ekskresi dan Reproduksi
2.6.1 Sistem Ekskresi
Ikan memiliki sistem ekskresi berupa ginjal dan suatu lubang pengeluaran yang disebut lubang virogenital ialah lubang tempat bermuaranya saluran ginjal dan yang berada tepat di belakang anus.Ginjal pada ikan yang hidup di air laut memiliki sedikit glomerulus, sehingga hasil metabolisme berjalan lambat dibanding ikan air tawar (Ka.462, 2008).
Sistem ekkresi adalah sistem pembuangan proses metabolisme tubuh berupa gas, cairan dan padatan melalui kulit, ginjal dan saluran pencernaan. Organ-organ dalam sistem ekskresi ialah kulit, saluran pencernaan dan ginjal :
1.      Menyaring sisa-sisa proses metabolisme untuk dibuang, zat-zat
yang diperlukan tubuh diedarkan lagi melalui darah.
2.      Mengatur kekentalan urin yang dibuang untuk menjaga
keseimbangan tekanan osmotik cairan tubuh.
Tekanan osmotik cairan tubuh berbeda antara ikan-ikan bertulang benar (tekostei) yang hidup di laut dan yang hidup di perairan tawar, demikian juga dengan ikan-ikan bertukang rawan (Elasmobranchii), sehingga struktur dan jumlah ginjalnya juga berbeda, demikian juga dengan sistem osmoregulasi (Dinas Kelautan dan Perikanan, 2011).
Alat ekskresi ikan berupa sepasang ginjal yang memanjang (opistanefros) dan berwarna kemerah-merahan.Mekanisme ekskresi pada ikan yang hidup di air tawar dan air laut berbeda.Ikan yang di air tawar mengekskresikan amoniak dan aktif menyerap oksigen melalui insang serta mengeluarkan urin dalam jumlah besar. Sebaliknya, ikan yang hidup di air laut akan mengekskresikan amoniak melalui urin yang jumlahnya sedikit (Rachmadrevanz, 2011).
2.6.2  Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi ialah sistem untuk mempertahankan spesies dengan menghasilkan keturunan yang fertil. Embriologi ialah urutan proses perkembangan dari zigot sampai pada anak ikan. Organ reproduksi diantaranya organ kelamin (gonad) menghasilkan sel kelamin (gamet) yaitu spermatozoa (gonad jantan), biasanya sepanjang kiri dan kanan lalu menghasilkan pula telur (gonad betina) yaitu ovarium (Ainun, 2009).
Keberhasilan suatu spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan tersebut untuk bereproduksi dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan kemampuan untuk mempertahankan populasinya.Setiap spesies ikan mempunyai strategi reproduksi yang terdiri sehingga dapat melakukan reproduksinya dengan sukses.Fungsi reproduksi pada ikan nila pada dasarnya merupakan bagian dari sistem reproduksi terdiri dari kelenjar kelamin atau gonad, di mana pada ikan betina disebut ovarium sedang pada jantan disebut testis beserta salurannya (Hoar dan Randall, 1983).
Menurut Harder (1975), tipe reproduksi dibagi menjadi a) Tipe sinkronisasi total di mana oosit berkembang pada stadia yang sama. Tipe ini biasanya terdapat pada spesies ikan yang memijah hanya sekali dalam setahun, b) Tipe sinkronisasi kelompok dengan dua stadia, yaitu oosit besar yang matang, di samping itu ada oosit yang sangat kecil tanpa kuning telur dan c) Tipe asinkronisasi di mana ovarium terdiri dari berbagai tingkat stadia oosit.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pada spesies ikan terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal.Faktor eksternal meluputi curah hujan, suhu, sinar matahari, tumbuhan dan adanya ikan jantan. Pada umumnya ikan-ikan di perairan alami akan memijah pada awal musim hujan atau pada akhir musim hujan, karena pada saat itu terjadi akan terjadi perubahan lingkungan atau kondisi perairan yang dapat merangsang ikan-ikan untuk berpijah (Sutisna, 1995).
2.7  Jenis dan Bagian Fungsi Sisik
Ikan memiliki jenis sisik yang berbeda-beda, begitu pula dengan fungsi sisiknya. Berikut adalah jenis dan fungsi sisik pada ikan :
2.7.1 Jenis Sisik
1) Sisik Kosmoid (Cosmoid)
Sisik kosmoid yang sesungguhnya hanya dijumpai pada ikan-ikan bangsa Crossopterygi yang telah punah.Sisik ini berlapis-lapis, di mana lapisan terdalam terbangun dari tulang yang memipih.Di atasnya berada selapis tulang yang berpembuluh darah, dan di atasnya lagi, selapis bahan serupa email gigi yang disebut cosmine.Kemudian di bagian terluar terdapat lapisan keratin.Ikan Coelacanth memiliki semacam sisik kosmoid yang telah berkembang, yang kehilangan lapisan kosmin dan lebih tipis dari sisik kosmoid sejati.
2) Sisik Ganoid
            Sisik-sisik ganoid ditemukan pada ikan-ikan suku Lepisosteidae dan Polypteridae.Sisik-sisik ini serupa dengan sisik kosmoid, dengan sebuah lapisan ganoid terletak diantara lapisan kosmin dan enamel.Sisik-sisik ini berbentuk belah ketupat, mengkilap dan keras.
3) Sisik Plakoid
            Sisik-sisik plakoid dimiliki oleh ikan hiu dan ikan-ikan bertulang rawan lainnya .sisik-sisik ini memiliki struktur serupa gigi.
4) Sisik Leptoid
            Sisik-sisik leptoid didapati pada ikan-ikan bertulang keras, dan memiliki dua bentuk, yakni sisik sikloid (cycloid) dan ktenoid (ctenoid).Sisik-sisik sikloid memiliki tepi luar yang halus dan paling umum ditemukan pada ikan-ikan yang lebih primitif yang memiliki sirip-sirip yang lembut. Misalnya ikan-ikan salem dan karper. Sisik-sisik ktenoid bergerigi di tepi luarnya, dan biasanya ditemukan pada ikan-ikan yang lebih modern yang memiliki sirip-sirip berduri (Suyana, 2010).

0 komentar:

Post a Comment