spermatozoa

Pada hakekatnya spermatozoa merupakan bagian dari semen. Semen tersebut terbagi menjadi dua bagian yaitu, spermatozoa dan sel-sel jantan yang bersuspensi di dalam suatu cairan yang disebut dengan plasma semen (Toelihere, 1982).
Semen berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai arti biji. Semen dalam ilmu reproduksi diartikan sekresi kelamin jantan yang secara normal di ejakulasikan ke dalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi, dan dapat juga ditampung dalam tempat sementara sebagi inseminasi buatan (Partodiharjo, 1992).
Spermatozoa sendiri dihasilkan di dalam testis yang disebut dengan tubuli semiferus, sedangakan plasma semen adalah campuran  seksresi yang dibuat oleh epididymis dan kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap yaitu kelenjar vasikularis dan kelenjar prostat. Reproduksi sperma atau plasma semen keduanya dikontrol dengan hormon (Toelihere, 1982).
Pada umumnya kelompok yang berflagellum lazim memiliki bagian-bagian, kepala dan ekor. Kepala sebagai penorobos jalan dan masuk menuju ke dalam ovum, dan membawa bahan genitis yang akan diwariskan kepada anak cucu. Ekor sebagai pergerakan menuju tempat pembuahan dan untuk mendorong kepala menorobos selaput ovum (Yatim, 1994).
Suatu alasan yang logis mengapa harus mengetahui atau memeriksa spermatozoid, yaitu karena dari pemeriksaan tersebut akan diketahui berapa jumlah sperma yang hidup dan yang mati. Hal ini akan menentukan apakah semen itu dapat diencerkan dan disimpan lama atau tidak. Seandainya terdapat banyak seprma yang mati, maka semen seperti ini tidaklah berharga untuk disimpan (Partodihardjo, 1992).
Macam-macam spermatozoa menurut struktur dibagi menjadi dua kelompok yaitu, kelompok berflagellum dan kelompok yang tidak berflagelum. Kelompok yang tidak berflagellum terdapat pada beberapa jenis vertebrata, yakni Nematoda, Crustacea, Diplopoda, sedangkan yang berflagellum terdapat secara umum pada hewan vertebrata (Yatim, 1994).
Spermatozoa dihasilkan secara terus menerus setiap hari, tapi bagi hewan yang memiliki musim kawin penghasilan lebih antara giat jika antara musim itu. Ada pula penghasilan terus menerus sebelum musim kawin, lalu dibuat cadangan. Jika musim kawin tiba, maka sperma yang dihasilkan akan dikeluarkan sekaligus, sesuai dengan betina yang mengeluarkan seluruhnya sel stelurnya (Iqbal, 2006).
Kerapatan sperma juga dipengaruhi oleh beberapa faktor spesies dan ternyata Aves memiliki kerapatan sperma yang paling tinggi dibandingkan dengan golongan mamalia, tapi jumlah mani yang dikeluarkan lebih sedikit. Kerapatan sperma ikut menentukan kemandulan pria, kalau terlalu rendah orang tersebut besar kemungkinan akan mengalami kemandulan (Yatim, 1994).
Pada hewan yang tidak memiliki epididymis, testis mengambil fungsinya sebagai tempat perkembangan serta maturasi sperma. Pada hewan tersebut sperma yang matang, mempunyai motilitas dan mempunyai kemampuan untuk memenuhi sel telur, sedangkan pada hewan yang mempunyai epididymis sperma yang berada pada tubulus seminiferus atau yang dikeluarkan dari testis sebelum motil, motilitasnya baru diperoleh setelah mengalami aktivasi atau pematangan fisiologia di dalam epididymis (Muchtaromah, 2006).
Perbedaan anatomik kelenjar kelamin pelengkap pada berbagai jenis hewan menyebabkan pula perbedaan-perbedaan volume dan komposisi semen bagi spesies-spesies tersebut, seperti perbedaan bentuk kepala dari bulat pipih sampai bulat lancip (Iqbal, 2006).
Menurut Hafez dan Hafez (2000), spermatozoa yang berasal dari cauda epididimis memiliki daya fertilitas hampir sama dengan spermatozoa ejakulat. Oleh karena itu, upaya pemilihan bahan pengencer sebagai media penyimpanan yang tepat perlu dilakukan agar dapat meningkatkan kualitas spermatozoa epididimis kerbau belang setelah pencairan kembali (thawing).
            Untuk menghasilkan semen beku yang berkualitas dibutuhkan pengencer semen yang mampu mempertahankan spermatozoa (Toelihere, 1993).

No comments