Jagung manis (Zea mays saccharata [Sturt.] Bailey)

Jagung manis (Zea mays saccharata [Sturt.] Bailey) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi karena banyak disukai oleh masyarakat.  Biji jagung manis menyerupai kaca dan mempunyai zat gula.  Pada biji yang masih muda terlihat jernih dan bercahaya, namun biji akan keriput pada waktu masak (Nurhayati, 2002).  Sifat manis pada jagung manis disebabkan oleh adanya gen su-1 (sugary), bt-2 (brittle) ataupun sh-2 (shrunken).  Gen ini dapat mencegah pengubahan gula menjadi zat pati pada endosperm sehingga jumlah gula yang ada kira-kira dua kali lebih banyak dibandingkan jagung biasa.  Kadar gula pada endosperm jagung manis sebesar 5 – 6 % dan kadar pati 10 – 11 % sedangkan pada jagung biasa kadar gulanya hanya 2 – 3 % atau setengah dari kadar gula jagung manis.  Gula yang tersimpan dalam biji jagung manis adalah dalam bentuk sukrosa yang jumlahnya dapat mencapai 11 %.  Jagung manis memiliki sifat-sifat vegetatif dan generatif yang beragam secara kualitatif dan kuantitatif.  Sifat-sifat vegetatif dan generatif tersebut secara genetik perlu ditingkatkan untuk menghasilkan fenotipe yang diinginkan.
Pemuliaan tanaman diartikan sebagai suatu metode yang secara sistematik merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.  Secara umum, tujuan pemuliaan tanaman adalah untuk memperbaiki sifat-sifat tanaman, baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Jumin, 2008). 


Ragam genetik suatu populasi sangat penting dalam program pemuliaan.  Oleh karena itu, pendugaan besarannya perlu dilakukan.  Ragam genetik adalah ragam yang ditimbulkan oleh perbedaan genetik di antara individu.  Ragam yang diukur dari suatu populasi untuk karakter tertentu merupakan ragam fenotipe.  Ragam fenotipe sebenarnya terdiri atas ragam genetik, ragam lingkungan, serta interaksi antara ragam genetik dan lingkungan.  Dalam menilai keragaman genetik dalam spesies kita hadapkan pada pertentangan bentuk dari suatu sifat tanaman, seperti: tinggi tanaman, umur tanaman, hasil, dan sebagainya.  Sifat tersebut ditentukan oleh gen-gen tertentu yang terdapat pada kromosom, interaksi gen-gen atau gen dengan lingkungan.  Keragaman genetiklah yang menjadi perhatian utama bagi pemulia tanaman.  Menurut Bahar dan Zein (1993 dalam Sudarmadji  et al., 2007), ragam genetik akan membantu dalam mengefisienkan kegiatan seleksi.  Ragam genetik yang besar dalam suatu populasi menunjukkan bahwa individu dalam populasi beragam sehingga peluang untuk memperoleh genotipe yang diharapkan akan besar. 

Menurut Syukur (2005), heritabilitas adalah hubungan antara ragam genotipe dengan ragam fenotipenya.  Hubungan ini menggambarkan seberapa jauh fenotipe yang tampak merupakan refleksi dari genotipe.  Pada dasarnya seleksi terhadap populasi bersegregasi dilakukan melalui nilai-nilai besaran karakter fenotipenya. 
Heritabilitas broad-sense di analisis untuk menghitung peluang sifat genetik, baik untuk peubah vegetatif dan peubah generatif yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.  Heritabilitas yang besar ditentukan oleh besarnya ragam genetik.  Semakin besar nilai heritabilitas, semakin besar pula peluang sifat tersebut dapat diwariskan kepada zuriat turunannya.  Nilai heritabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa faktor genetik lebih besar terhadap penampilan fenotipe bila dibandingkan dengan lingkungan (Sudarmadji et al., 2007).

No comments