Wednesday, February 29, 2012

IKAN-IKAN DEMERSAL


Indonesia merupakan negara kepuluan yang memiliki potensi yang sangat besar di bidang kelautan dan perikanan. Secara umum, potensi sumber daya kelautan di seluruh Nusantara mencapai 6,26 juta ton ikan per tahun. Sampai dengan tahun 2000 lalu, potensi kelautan yang baru dimanfaatkan sebesar 5,1 juta ton per tahun. Pemanfaatannya juga masih terbatas pada ikan untuk dikonsumsi langsung dan olahan ikan secara tradisional (Triana, 2004).
Total hasil tangkap laut tersebut yang langsung untuk konsumsi ikan segar 61,04 persen, olahan tradisional 28.46 persen dan olahan modern 10,33 persen. Ekspor olahan ikan Indonesia pada tahun 2000 sebanyak 703.155 ton. Total jumlah ekspor tersebut masih didominasi produk olahan modern yang mencapai 80 persen dan hanya enam persen yang merupakan olahan tradisional.
Permintaan luar negeri mengalir deras, tetapi keterbatasan penguasaan keterampilan dan penerapan teknologi modernlah yang membuat industri pengolahan ikan Indonesia tidak dapat memenuhi permintaan tersebut. Padahal, dengan jumlah tenaga kerja dan potensi kelautan dan perikanan yang berlebih  tantangan tersebut sangat mungkin dipenuhi.
Salah satu jenis pengolahan ikan yang berkembang di Indonesia terutama di daerah pantura adalah pengolahan fillet ikan demersal. Daerah-daerah yang telah mengembangkan pengolahan fillet ikan demersal ini diantaranya adalah daerah Brebes dan Tegal, Jawa Tengah. Bahan baku yang digunakan dalam pengolahan fillet ini adalah ikan-ikan demeresal yang sebelumnya kurang laku di pasaran. Contoh ikan demersal yang banyak digunakan untuk pengolahan fillet di daerah Tegal adalah ikan abangan, kapasan, demang, kuniran, dan coklatan (Ariadi, 2004). Sebelum industri fillet ini berkembang, ikan-ikan tersebut kurang memiliki nili ekonomis yang tinggi. Pemanfaatannya hanya sebatas sebagai bahan baku untuk proses pengolahan ikan asin, proses pengolahan tepung ikan atau hanya dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak yaitu bebek.
Ikan demersal adalah ikan yang umumnya hidup didaerah dekat dasar perairan, ikan demersal umumnya berenang tidak berkelompok (soliter). Sumberdaya ikan demersal terbagi dua berdasarkan ukuran yaitu ikan demersal kecil dan ikan demersal besar. Industri pengolahan fillet ikan demersal pada umumnya memanfaatkan ikan demersal kecil sebagai bahan bakunya. Contoh-contoh ikan yang termasuk ke dalam ikan demersal kecil adalah ikan bambangan, beloso/buntut kerbo, baronang kuning, biji nangka, biji nangka karang, kuniran, gulamah, kurisi dan lain-lain.    
Ikan kuniran merupakan salah satu jenis ikan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pengolahan fillet ikan demersal terutama di daerah Tegal, Jawa Tengah. Nama latin untuk ikan kuniran adalah Upenephelus sulphureus (Cuvier, 1829). Nama internasional untuk jenis ikan ini adalah Sulphur goatfish, sedangkan banyak sekali nama lokal yang ada untuk ikan kuniran yaitu antara lain kuniran (PPN Prigi), kuningan, kamujang (PPN Brondong), kuniran (PPN Karangantu), kuniran (PPN Pekalongan), kuniran, jenggot (PPP Tegalsari), kuniran (PPS Cilacap). ikan kuniran masuk ke dalam famili Mullidae, genus Upeneus. Hidup di sekitar terumbu karang. Bentuk badan memanjang sedang, pipih samping dengan penampang melintang bagian depan punggung beberapa garis bengkok yang dalam dan kepala tumpul. Mempunyai pita gelap berwarna coklat kemerahan memanjang di atas gurat sisi mulai dari moncong melewati mata sanpai ke pertengahan dasar pangkal ekor. Ukuran mampu mencapai 20 cm. Ikan ini biasanya ditangkap menggunakan Pukat tarik ikan (Fish net), Dogol (termasuk lampara dasar, cantrang) (Demersal danish seine), Pukat cincin (Purse seine), Bagan tancap (Stationary lift net) dan Sero (Guiding Barrier). Ikan kuniran tersebar di perairan pantai seluruh Indonesia, ke utara dampai Teluk Benggala, Teluk Siam, sepanjang Laut Cina Selatan, Philipina, ke selatan sampai pantai utara Australia dan ke barat sampai Afrika Timur. Di Indonesia ikan kuniran didaratkan di PPP Tegalsari, PPN pekalongan, PPN Brondong dan PPP Karangantu.
Jenis ikan lain yang juga banyak digunakan dalam proses pengolahan fillet ikan demersal adalah ikan mata goyang atau swanggi. Nama Internasional untuk jenis ikan ini adalah Purple-spotted bigeye. Nama latin dari ikan mata goyang ini adalah Pricanthus tayenus (Rhicardson, 1846), sedangkan nama lokalnya antara lain golok sabrang (PPN Brondong), capa (PPN Sibolga), mata bulan (PPN Ambon), camaul (PPN Pelabuhan Ratu), demang, mata goyang, ohyes (PPP Tegalsari), belong (PPN Pekalongan) dan empok asu (PPN Prigi). Ikan ini memiliki bentuk bulat agak memanjang, mata cukup besar dengan bintik hitam pada bagian sirip pectoral. Ikan mata goyang tersebar pada perairan dengan dasar karang berbatu. Alat tangkap yang digunakan untuk mendapatkan ikan mata goyang antara lain Pukat tarik udang ganda (Double rigs shrimp trawl), Pukat tarik ikan (Fish net), Payang termasuk Lampara dasar (Pelagic danish seine), Pukat cincin (Purse seine), Jaring insang hanyut (Drift gill net), Jaring klitik (Shrimp entangling gill net), Jaring tiga lapis (Trammel net), Bagan perahu/rakit (Boat/raft lift net), dan Sero termasuk Kelong (Guiding barrier). Di Indonesia ikan ini didaratkan di PPN Sibolga, PPN Pelabuhan Ratu, PPP Tegalsari, PPN Pekalongan, PPN Brondong dan PPN Ambon. Ikan demersal lainnya yang juga digunakan dalam pengolahan fillet ikan demersal adalah ikan ekor kuning. 

0 komentar:

Post a Comment