Breaking News

Motilitas Spermatozoa Kambing PE Setelah Pembekuan

Pemeriksaan awal secara makroskopis dan mikroskopis semen dinyatakan layak untuk diproses menjadi semen beku. Berdasarkan uji Anova (analisis of variant)  menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata (p<0.01) antar pengencer terhadap motilitas spermatozoa setelah pembekuan. Untuk mengetahui motilitas yang tertinggi dan terendah maka dilanjutkan dengan uji Tukey.

Tabel  Rerata dan  Standar Deviasi Persentase Motilitas Spermatozoa Kambing
                Peranakan Etawa Setelah Pembekuan :
Perlakuan
Motilitas %  (X± SD)
P1
30,00a ± 5,48
P2
36,67ab ± 5,16
P3
42,50b ± 4,18
Superskrip dengan notasi yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0.05).
Adanya perbedaan diantara 3 pengencer disebabkan karena masing – masing pengencer mempunyai komponen – komponen berbeda.
Pengencer skim kuning telur, kuning telur yang terdapat ion sitrat berikatan Ca yang terdapat dalam plasma semen, sehingga akan menghilangkan fungsi Ca sebagai pemacu motilitas. Seperti pendapat Fleig yang dikutip oleh Salisbury dan Van Denmark (1985) yang menyatakan bahwa Ca berfungsi sebagai pemacu motilitas. Pengencer tris kuning telur memiliki komposisi bahan yang lengkap (tris hydroxymethil aminomethan,  asam sitrat, fruktosa, antibiotik, lipoprotein, dan lecitin) menyediakan zat makanan dan sumber energi yang penting bagi spermatozoa untuk mempertahankan kehidupannya (Hafez, 2000).
Pengencer AndroMed®  mengandung protein, karbohidrat (fruktosa, glukosa, manosa, dam maltotriosa), mineral (natrium, kalsium, kalium, magnesium, klorida, fosfor dan mangan), asam sitrat, gliserol, lemak, lesitin, dan glyseril phosporyl cloin (GPC). Fruktosa sebagai substrat energi utama yang terkandung dalam bahan pengencer dasar AndroMed® dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa selama penyimpanan (Arifiantini dkk, 2005).
Daya Hidup (Viabilitas) Spermatozoa Kambing PE Setelah Pembekuan       
Pemeriksaan viabilitas spermatozoa menggunakan preparat ulas dengan pewarnaan Eosin Negrosin. Berdasarkan uji Anova (analisis of variant) pada Lampiran 10 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata (p<0.01) antar pengencer terhadap viabilitas spermatozoa setelah pembekuan. Untuk mengetahui viabilitas yang terendah dan tertinggi maka dilanjutkan dengan uji Tukey.
Tabel 2 Rerata dan  Standar Deviasi Persentase Viabilitas Spermatozoa Kambing
                 Peranakan Etawa Setelah Pembekuan :
Perlakuan
Spermatozoa Hidup (%) (X±SD)
P1
42,17a ± 5,81
P2
48,00ab ± 5,06
P3
58,33c ± 6,50
Superskrip dengan notasi yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0.05).
Spermatozoa yang telah mati, tidak terdapat perbedaan potensial ion natrium dan kalium antara di dalam dan di luar sel sehingga Eosin Negrosin yang berikatan dengan natrium akan dengan mudah berdifusi ke dalam sel spermatozoa dan menunjukkan penyerapan warna pada kepala saat diberi pewarnaan (Achmadi, 2001). Sejalan dengan pendapat  Hardijanto dkk (2008), spermatozoa yang mati permeabilitas membran selnya meningkat, terutama pada daerah post nuclear caps sehingga sel spermatozoa yang mati akan menyerap zat warna Eosin Negrosin, sel spermatozoa yang hidup mempunyai kondisi membran yang baik sehingga zat warna kesulitan menembus membran, akibatnya sel spermatozoa tetap berwarna jernih.
Persentase hidup spermatozoa pada Tabel 2 menunjukkan jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan persentase motilitas pada Tabel 1. Spermatozoa yang hidup belum tentu motil, sedangakan spermatozoa yang motil pasti hidup (Partodiardjo,1992). Banyaknya spermatozoa yang masih hidup tetapi tidak motil atau tidak bergerak progresif sehingga persentase hidup spermatozoa selalu lebih tinggi daripada persentase motilitas (Kostaman dan Sutana, 2006).

No comments